FENOMENA LUMPUR PANAS SIDOARJO: Misteri, Kompleksitas, dan Harapan
FENOMENA LUMPUR PANAS SIDOARJO:
Misteri,
Kompleksitas, dan Harapan
Oleh:
Hardi
Prasetyo
Wakil
Kepala Bapel BPLS
Makalah
dikontribusikan pada acara:
Sosialisasi Hasil-hasil Pembangunan Bidang Pertambangan dan Energi di
Jawa Timur tahun 2007
yang
dilaksanakan pada tahun Anggaran 2008
Dinas
Energi dan Sumber Daya Mineral, Provinsi Jawa Timur
7 Agustus
2008, Pandaan, Kabupaten Pasuruan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tidak ada seorangpun yang membayangkan sebelumnya, bahwa Semburan Lumpur
Panas Sidoarjo (hot mud eruption and
flow) yang dilahirkan pada tanggal
29 Mei 2006 di Kabupaten Sidoarjo, akan terus tumbuh subur dan berkembang sedemikian dahsyat.

Gambar 1: Transisi dari Timnas PSLS ke
BPLS, acara bedah buku Sempuran Lumpur Panas Sidoarjo, penulis Basuki. H.,
(2008) ditelaah oleh Prasetyo (2008).
Sampai saat melewati umur dua
tahun (29 Mei 2008), LuSi masih terus menimbulkan implikasi yang sangat luas
terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat di daerah
sekitar Bencana tersebut.
Atas dasar hal tersebut diperlukan suatu kepedulian,
komitmen dan dorongan yang kuat dari
seluruh komponen bangsa Indonesia, untuk berkontribusi baik langsung atau tidak.
Guna menanggulangi bencana (disaster
management) secara lebih komprehensif, integral dan holistik. Baik oleh
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Masyarakat setempat, dan pihak-pihak lainnya
yang terkait secara langsung.
Upaya penganggulangan semburan vs ekspektasi masyarakat
Sejak awal terjadi semburan lumpur Sidoarjo (Sidoarjo mud eruption), telah dilakukan
berbagai upaya untuk menanggulanginya baik langsung ditujukan untuk mematikan
semburan (stopping eruption), maupun
untuk mengurangi kecepatan luapan lumpur (mud
flow rate). Namun sebegitu jauh masih belum mencapai hasil yang memadai,
sebagaimana ekspektasi masyarakat yang demikian tinggi.
Oleh karena itu dipandang perlu adanya peningkatan pengendalian terhadap semburan
dan luapan lumpur, guna menyelamatan penduduk beserta harta bendanya,
serta penanganan masalah sosial dan infrastruktur.
Perbedaan Mendasar dalam
Kebencanaan
Terdapat perbedaan mendasar dalam aspek kebencanaan (disaster aspect) yang ditimbulkan Lusi,
bila dibandingkan dengan bencana nasional lainnya yang telah terjadi, antara
lain Tsunami di NAD dan Gempabumi Yogyakarta. Pada kedua bencana nasional
tersebut pengendali mekanismenya sebagai fenomena geologi yaitu gempabumi yang
memicu tsunami telah berlalu. Sehingga penanganan ‘bencana’ selanjutnya dapat terfokus
pada pemulihan dan normalisasi (recovery
and normalization) kehidupan masyarakat serta infrastruktur.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan yang terjadi pada
fenomena Lumpur Sidoarjo, dimana sebagai pengendali mekanisme bencana yaitu
semburan dan luapan lumpur panas (eruption
and flowing of hot mud) masih terus berlangsung. Bahkan banyak para ahli
kebumian (Earth Scientists),
memberikan pandangan yang pesimisme terhadap upaya manusia untuk dapat
menghentikan semburan (stopping eruption).
Atau bila dapat berhenti dengan
sendirinya (self stop eruption) akan
memerlukan durasi antara 20-30 tahun ke depan.
Bersamaan dengan
itu terjadi geohazard (patahan,
rekahan, penurunan tanah dan amblasan, bubble dengan air dan gas metan dan H2S),
bencana ikutan ini juga terjalin erat dengan fenomena dampak lingkungan hidup (environmental impact).
Perhatian Fenomena Lusi oleh
Masyarat Internasional
Sejak awal kejadiannya dan berlanjut seiring perjalanan
waktu, Lumpur Sidoarjo (Lusi) oleh international community telah
ditempatkan pada literatur (terutama
yang menonjol di cybernet) sebagai salah satu fenomena aliran lumpur (mud flow), atau semburan lumpur (mud eruption), atau secara lebih khusus
lagi ditetapkan sebagai salah satu dari ribuan gunung lumpur (mud volcano)
yang berkembang di planet bumi (the Earth Planet). Baik di daratan (onshore),
maupun di lepas pantai (offshore).
Gambar 2. Skematik
diagram memperlihatkan kontroversi antara mudvolcano dipicu gempabumi atau
dipicu Underground blowout, acara bedah buku Sempuran Lumpur Panas Sidoarjo, penulis Basuki. H., (2008)
ditelaah oleh Prasetyo (2008).
Penempatan Lusi sebagai
fenomena geologi (natural phenomenon) ditentukan baik dengan
memperhatikan faktor-faktor penyebab maupun pemicu (causing or triggering). Atau yang semata-mata hanya melihat dari wujud dan
karakteristik akhir (the end of shape and
characteristics), yaitu kedahsyatan seluruh sistem semburan lumpur panas (spectacular hot mud eruption) yang
mencakup karakteristik fisik, intensitas semburan dan luapan, serta
kenampakannya di permukaan bumi (surface
of the Earth).
Suatu
hal yang patut mendapatkan perhatian kita bersama adalah Fenomena Lusi dengan Misteri
yang menyelubunginya tersebut pada bulan Oktober 2008 di Cape Town, Afrika
Selatan akan dibawa pada forum Debat Internasional (international debate) yang diselenggarakan oleh AAPG (Asosiasi
Ahli Geologi Perminyakan), dimana akan menghadirkan 5 panelis (2 dari
Indonesia) yang dipilih dari kedua pihak pengusul terkait (gempabumi &
pemboran).
Benang
Merah Fenomena Lumpur Panas Sidoarjo
Prolog Lusi antara Bencana, Misteri,
Kompleksitas dan Harapan
Fenomena
Lumpur panas Sidoarjo berawal tanggal 29 Mei 2006 selanjutnya yang telah umum disebut
sebagai LuSi. Merupakan salah satu
peristiwa Bencana yang penuh
diselubungi dengan misteri penyebab
dan pemicunya (causing and triggering),
serta sangat komplek permasalahan
dan penanganannya; sementara itu ekspektasi dan harapan masyarakat demikian tinggi.
Gambar
3. Memperlihatkan posisi Lumpur
Sidoarjo oleh Davies et al., 2007 di sebut sebagai mud volcano yang tumbuh dengan
cepat, di-overlay dengan gunung Pananggungan di selatan diperkirakan
menginduksi gradient panas (thermal gradient), serta gawir (escarpment) yang
ditafsirkan sebagai Patahan Watukosek (Mazzini et tal., 2008) yang berperan
sebagai pengendali mekanisme Lusi diaktifkan kembali oleh adanya gempabumi
Yogyakarta. Foto (Prasetyo 2007) diambil dari Tanggul Perumtas di sebelah Pond
Glagaharum.
Kejadian
fenomena lumpur Sidoarjo berbarengan dengan suatu kegiatan eksplorasi untuk
menemukan gas bumi sebagai sumber daya alam tak terbarukan (nonrenewable resources), melalui pemboran sumur Banjar Panji-1.
Pada hakekatnya dilaksanakan guna meningkatkan keamanan pasokan energi berbasis
minyak dan gas bumi (energy supply
security), dalam rangka meningkatkan cadangan dan produksi gas alam (natural gas production). Namun hubungan
antara semburan dan pemboran Banjar Panji-1 sampai saat ini masih diperdebatkan
dan menjadi hal kontroversi yang cukup seru.
Kedahsyatan dan konsistensi semburan dan luapan lumpur
Gambar 4: Mud volcano
Lusi sebagai salah satu fenomena alam semesta yang unik dibandingkan dengan
pendaratan peralatan buatan manusia pada salah satu kaldera di Planet Mars.
Sampai awal Agustus 2008, semburan yang terdiri dari
campuran material lumpur, air, uap dengan durasi sampai bulan ke 26 yang
relatif berkesinambungan tanpa putus (pernah mengalami 5 kali semburan berhenti
sejenak) masih konsisten kedahsyatannya. Kecepatan luapan (flow rate) rata-rata masih sekitar
80.000-100.000 m3/hari pada Desember 2006 dilaporkan sebagai puncak (peak)
sebesar 180.000m3/hari (Mazzini et al., 2007), temperatur mendekati 100oC,
disertai emisi gas terutama H2S.
Semburan
lumpur yang berasal dari dalam perut bumi (interior
of the earth) ini sebagai pengendali mekanisme utama (main driving force) diperburuk dengan dampak berganda (multiplier impact) oleh bencana geologi
(geological hazard) berupa patahan (fault), rekahan (fracture), penurunan tanah (dari tingkat terendah land subsidence, menengah sag-like subsidence sampai yang ekstrim sudden collapse), dan bubble air dengan
gas metana.
Berdasarkan
terjadinya dua kali interval keruntuhan seketika di pusat semburan (18 Maret
dan 2 Juni 2008) dengan intensitas 3-7 m dalam satu malam, maka Lusi juga telah
dicirikan sebagai mud volcano, disamping tumbuh paling cepat di dunia (the world’s fastest mud volcano growing)
juga mulai tenggelam di bawah kawahnya
sendiri (sinking in its own crater).
Mud Volcanoes and Parachuting
Spacecraft
Didasarkan
kepada kedahsyatan baik semburan dan luapannya, maupun dari dampak berganda geohazard, baru-baru ini masyarakat ilmiah di dunia
telah menempatkan keunikkan mud volcano di Indonesia , yang diidentikkan dengan
pendaratan peralatan buatan manusia menggunakan parasut pada suatu Kaldera di
Planet Mars.
Dalam penerbitan New York Times tanggal 30 Mei 2008 atau
satu hari setelah peringatan dua tahun Lusi (29 Mei 2006) berjudul Mud Volcanoes and Parachuting Spacecraft
(slide shows) pada slide No. 1 dari 12
slide ditampilkan foto Semburan Lumpur Sidoarjo diambil oleh Richard Davies
(2008).
Implikasi dan Langkah
Nyata Pemerintah untuk menanggulangi Bencana: Kebijakan dan Implementasi
Gambar 5: Skematik Peraturan Presiden No. 17/2007 (Prasetyo. 2007)
Dampak langsung semburan lumpur panas maupun dampak
berganda tersebut secara perlahan, namun pasti telah menimbulkan Bencana yang sulit dinilai besarannya,
yaitu terhadap keselamatan jiwa (15 Pahlawan LuSi), sendi-sendi kehidupan
masyarakat, infrastruktur, dan lingkungan hidup.
Sehingga Pemerintah dalam upaya meningkatkan
penanggulangan yang ditimbulkan dari Fenomena
LuSi tersebut telah menetapkan kebijakan membentuk Badan Penanggulangan
Lumpur Sidoarjo berdasarkan Perpres 14/2007, sebagai kelanjutan dari Tim
Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo (Timnas PSLS).
Lebih jauh lagi dengan meluasnya Peta Area Terdampak
tanggal 22 Maret 2007 (disingkat PAT), pemerintah dengan Perpres 48/2008 telah menetapkan
untuk membebaskan 3 desa di selatan PAT yaitu Besuki, Pejarakan dan
Kedungcangkring, guna meningkatkan efisiensi pengaliran Lusi ke Kali Porong.
Gambar
6: Diagram alir Pokok-pokok Peraturan
Presiden No. 48/2008 tentang perubahan Perpres 14/2007, disederhanakan oleh
Prasetyo (2008).
Misteri Fenomena LuSi dan Implikasinya
Ditengah-tengah
segala upaya penanggulangan semburan dan menangani luapan lumpur agar PAT
tersebut tidak meluas, sampai saat ini penyebab dan pemicu semburan LuSi masih
merupakan Misteri, bahkan
kontroversi diantara para ahli kebumian (earth
scientists) dan ahli pemboran (drilling
expert) semakin meningkat intensitasnya. Dua alternatif pengendali mekanisme
penyebab dan pemicu adalah antara gempabumi atau underground blowout (UBO) diakibatkan kesalahan dalam pelaksanaan
kegiatan pemboran eksplorasi.
Namun,
dengan melihat kondisi nyata tumbuh dan berkembangnya Lusi (Lusi’s birth and development) yang sangat cepat, kedua kelompok
tersebut telah menerima secara universal bahwa LuSi sebagai mud volcano (gunung lumpur). Dengan
alternatif skenario sebagai fenomena alam/geologi (natural or geological phenomena) versus buatan manusia (man made mud volcano).
Upaya
membuka Misteri kejadian Lusi
tersebut merupakan titik kritis (critical
point) guna menentukan langkah-langkah ke depan yang tepat dan dapat
dipertanggungjawabkan, dalam rangka upaya penanggulangan semburan. Dalam kontek
ini termasuk skenario apakah LuSi dapat dihentikan,? Bila dapat dengan metoda
apa,? atau tidak dapat dihentikan?
Sehingga masih memerlukan waktu panjang (long way to go) untuk secara alami (yaitu pengurangan tekanan
berlebih menuju keseimbangan tekanan hidrostatik) semburan LuSi akan berhenti, atau
paling tidak mengecil dengan sendirinya.
Sebagai
catatan pihak yang memegang hipotesis mud volcano sebagai fenomena geologi dengan
mengacu referensi dari mud volcano di
dunia, umumnya bersikap skeptis atau pesimis
bahwa LuSi akan dapat dihentikan dalam waktu dekat ini.
Kompleksitas gejolak sosial kemasyarakatan
Upaya
penanggulangan Bencana LuSi menjadi sangat komplek
karena pengendali mekanisme semburan lumpur masih terus terjadi (tindakan
tanggap darurat), bersamaan dengan itu upaya pemulihan dan pembangunan kembali (recovery and rehabilitation)
sendi-sendi kehidupan masyarakat harus terus dilakukan secara cepat dan
simultan. Melalui penanganan masalah sosial kemasyarakatan, penanganan
infrastruktur.
Dalam
kaitan ini kompleksitas gejolak
sosial kemasyarakat terus terjadi silih berganti, bahka pada bulan Agustus ini
merupakan titik penting (critical point),
karena terjadinya persentuhan beberapa
masalah menjadi suatu kesatuan yang simultan, yaitu: 1) keberadaan pengungsi
dan bantuan sosial di Pasar Baru Porong dan di Jalan Tol, 2) pelaksanaan
pembayaran 20% yang tersisa di dalam PAT, 3) memasuki tahapan pembayaran tahap
80% dengan kontroversi antara skema cash
and carry dengan cash and resettlement,
4) pengadaan lahan untuk relokasi di luar PAT bagian barat, 5) pelaksanaan
tahap 20% pembebasan 3 desa di selatan PAT dipayungi dengan Perpres 48/2008; 6)
tindak lanjut evaluasi kelayakan huni 9 RT dari 9 desa diluar PAT dimotori oleh
Pemda Provinsi Jawa Timur, dan 7) normalisasi Kali Porong dari hulu ke muara
sebagai konsekuensi K. Porong digunakan sebagai media untuk mengangkut sedimen
lusi ke laut.
Gambar
7: Kompleksitas Gejolak Sosial
Kemasyarakatan (Prasetyo, 2008)
Komitmen Bapel BPLS
dan Harapan
Bapel BPLS ditengah-tengah tantangan dan permasalahan
kebencanaan yang bergerak sangat dinamis seperti diuraikan di atas, dalam
melaksanakan misi nasional yaitu pengendalian semburan dan luapan lumpur. Tetap berkomitmen dengan segala upaya dan
daya yang ada untuk melaksanakan misi nasional Penanggulangan Lumpur Sidoarjo
sebagaimana diamanatkan Perpres 14/2007 dan Perpres 48/2008.
Dalam melaksanakan misi nasional tersebut banyak
pilihan-pilihan komplek dan sulit yang harus diambil dari alternatif yang tidak
banyak tersedia. Disamping itu suatu realitas yang dihadapi selama ini banyak
kejadian-kejadian di lapangan yang berlangsung sangat dinamis dan terkadang
tidak diduga sebelumnya (unpredictable).
Mengingat bahwa Fenomena Lumpur Sidoarjo secara histori
dan substansial bersamaan dengan kegiatan sektor Energi dan Sumber Daya Mineral
terutama sektor hulu (upstream) dan
hilir (down stream) minyak dan gas
bumi, diharapkan: 1) dapat keluar dari kondisi tekanan psikologis (psysochologic pressure) atau trauma
berkepanjangan, khususnya dalam kegiatan pemboran eksplorasi migas yang
benar-benar harus dilaksanakan untuk membuktikan keberadaan dan besarnya
jebakan migas di reservoir bawah bawah permukaan bumi; 2) dapat menggunakan
fenoema LuSi sebagai pengalaman berharga dalam menyediakan pangkalan data
kebumian (Earthsciences data base)
pada kegiatan menunjang eksplorasi migas ke depan di Cekungan Jawa Timur pada
umumnya dan khususnya di Sub-Cekungan Sidoarjo-Porong. Termasuk di dalamnya
indikasi terhadap keberadaan fenomena mud diapirsma dan mud vulcano; dan 3)
peran data dan informasi geologi terkait geohazard
sebagai dampak berganda semburan lumpur Sidoarjo untuk pengembangan wilayah dan khususnya
pembangunan kembali Kecamatan Porong, Sidoarjo terhadap Fenomena Lumpur
Sidoarjo.
Gambar 8 : Transisi dari Timnas PSLS ke BPLS dengan 4 misi nasional (Prasetyo, 2008),
disajikan pada acara Bedah Buku Semburan Lumpur Panas Sidoarjo (Basuki 2008),
dimana peulis telah ditunjuk sebagai pembahas atau pembedah buku.
Kondisi LuSi Saat Ini
(Potret)
Makna dari Citra Satelit Bulanan
Gambar 9:
Perbandingan kondisi Pond Siring pada tahun 2006 dengan Juni 2008, kawasan
perumahan dan pabrik Marsinah total tenggelam dan sangat intensi berkembang
bubble (disebut komplek bubble Siring).
Citra satelit resolusi tinggi (high resolution satellite image)
IKONOS-CRISP yang diambil tanggal 26 Juni 2008 merepresentasikan secara aktual
dan obyektif kondisi luapan Lusi khususnya di dalam PAT (sebagai suatu ruang),
merupakan suatu perpaduan sekaligus (simultaneous
integration) antara fenomena alam dikedalikan oleh semburan lumpur panas
dari dalam perut bumi (interior of the
Earth), dan dampak berganda (multiplier
impact) sebagai deformasi geologi yang menimbulkan bencana (geohazard) yaitu subsidence dan bubble.
Bersamaan dengan itu adalah
upaya manusia (human effort) guna
mengendalikan semburan dan luapan lumpur baik menggunakan daya alami (natural power), teknologi dan peralatan
berat (technology and heavy tools),
maupun tanggul-tanggul sebagai banteng yang statis (static bamper).
Karekteristik
dari citra satelit di dalam Peta Area Terdampak
Beberapa karekteristik dari
citra satelit yang bermakna adalah:
1)
Pembentukan basin di Tanggul
Utama bagian utara: secara
sistem telah terjadi perubahan drastis sebagai implikasi runtuhnya seketika (sudden collapse) pusat semburan,
sehingga topografi tinggian (kawah) di utara Tanggul Utama telah berubah
menjadi suatu cekungan yang luas (large
basin), yang merupakan daerah depresi (depressi
region);
Gambar 10:
Penafsiran Citra Satelit pasca terjadinya sudden collapse sebesar 4-7 m di
Pusat Semburan.
1)
Restrukturisasi di Tanggul Cincin:
terjadi perubahan drastis di pusat semburan, yaitu cofferdam yang sebelumnya dibangun memanjang si sisi timur telah
runtuh bersamaan sudden collapse pada
(2 Juni 2008). Sehingga telah terjadi penggabungan (integration) antara pusat semburan dengan basin 44-43 di timurnya;
2)
Perubahan pengaliran Lusi ke
selatan: Pengaliran yang
sebelumnya melalui Jalur-1 (utama) Kanal Barat, telah lumpuh, sehingga pada
tahap awal pasca sudden collapse
aliran telah berbalik ke utara. Sehingga pengaliran utama Lusi telah dialihkan
melalui rute 44-43-42 menuju Basin 41 di tenggara Tanggul Utama;
3)
Tekanan berlebih ke Tanggul
44-43: secara alami karena
adanya gradien topografi maka aliran cenderung ke utara-timur yaitu basin
44-43, sebagai implikasi basin tersebut mendapatkan tekanan berlebih (overpressure) yang pada akhirnya
terjadi jebol (8 Juni 2008) dan sampai saat ini terus dalam kondisi retak-ratak
dan subsidence;
4)
Pengaliran Lusi secara
spektakular ke Pond PerumTAS (utara-barat pusat semburan): pengaliran karena alasan
kedaruratan (emergency) melalui
overflow 41.1 telah menyebabkan Lusi menggenangi daerah topografi rendah, pada
citra satelit terutama terakumulasi di Pond PerumTAS barat mulai dari Pond
Marsinah-Siring (selatan) sampai Pond Ketapang (utara),
5)
Pertumbuhan intensif bubble di
Pond Siring:
citra satelit dengan jelas memperlihatkan indikasi meningkatnya intensitas
bubble di Pond Siring di dalam PAT, sehingga luapan Lusi dari overflow 41.2
ketika memasuki kawasan ini telah dialirkan kembali dalam bentuk radial
sebagaimana morfologi gunung (volcano’s
morphologic);
6)
indikasi depresi radial (radial depression) di Pond TAS dan
topografi tinggian di timur Tas (Renokenongo-Glagaharum): dampak runtuhan di pusat
semburan yaitu subsidence dengan pola
radial (radial subsidence) juga
dicirikan pada Pond PerumTAS, sehingga secara umum bagian Timur
(Renokenongo-Glagaharum) dicirikan oleh topografi tinggian dimana Lusi yang
padu berwara putih sampai kehitaman.
7)
Jebolnya Tanggul 4-61
membentuk Celah Reno:
pada citra satelit juga dapat diidentifikasikan Tanggul 4-61 di Renokenongo
yang membuat Celah Reno (Reno Gap)
setelah mengalami runtuh pola terban (graben-like
collapse), selanjutnya merupakan titik lemah (weaknes pont) terhadap potensi meluasnya PAT;
8)
Pembangunan tapak Tanggul di
Ketapang Utara:
pembangunan tapak Tanggul Lingkar Luar kelanjutan Tanggul Ketapang ke utara
sudah sampai di titik Kali Ketapang, dan
sudah mulai kearah timur namun menghadapi hambatan, yaitupenolakan warga,
9)
Sedimentasi yang intensif di
hulu Kali Porong:
terlihat secara jelas sedimentasi Lusi yang sangat intensif di selatan spillway Kali Porong berbentuk sedimen
kipas (fan shape sediment), bahkan
sudah hampir menutupi 75% badan Kali Porong, dan dapat diikuti terus kearah
timur di Jembatan Tol lama.
SISTEM FENOMENA LUMPUR SIDOARJO:
Pengendali, Hasil, dan Penanggulangan
Pola Pikir dan Pengembangan Sistem PenanggulanganLumpur
Sidoarjo
Pola pikir yang dikembangkan sebagai suatu Sistem dari
Fenomena Lumpur Sidoarjo adalah sebagai berikut:
Gambar
11: Diagram Alur Pikir Fenomena Lumpur
Sidoarno, masukan, pengendali mekanisme, inisiasi bencana dan implikasi,
penanggulangan dan luaran (Prasetyo, 2008)
·
Proses Masukan:
Keamanan pasokan energi: Sangat mendesak kebutuhan
kegiatan eksplorasi, yaitu serangkaian kegiatan industri migas untuk menemukan
dan menentukan jumlah cadangan minyak bumi secara kuantitatif dari suatu
lapangan, dalam upaya untuk meningkatkan keamanan pasokan energi (energy security) berbasis minyak dan
gas bumi, baik dengan meningkatkan cadangan (reserve)
maupun produksi (production). Dimana
selama satu dekade ini cadangan dan produksi Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan. Sebagai dampak saat
ini Indonesia
telah menjadi Negara net importer
minyak bumi.
Kegiatan eksplorasi
dengan pemboran sumur Banjar Panji-1: Keberadaan PT Lapindo Berantas
sebagai operator dari Kontrak Kerjasama (KKS)
hulu migas (Contract Production Sharing)
dari Blok Brantas (Brantas Block), yang
melaksanakan kegiatan eksplorasi dengan target reservoir gas bumi dari
batugamping Formasi Kujung, dengan menggunakan sumur Banjar Panji-1, pada
lokasi di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.
Awal semburan lumpur
panas dan kontroversi penyebabnya: Pada tanggal 29 Mei 2006 terjadi semburan lumpur, air
dan uap panas (hot mud eruption) berjarak
150-200 m dari lokasi Banjar Panji-1. Selanjutnya menimbulkan kontroversi penyebab dan
pemicu kejadiannya dengan alternatif hipotesis: 1) yaitu mud volcano (man made)
sebagai underground blow out UGBO (masalah
pada kegiatan pemboran), 2) mud volcano sebagai fenomena geologi dipicu oleh
gempabumi (earthquake) Yogyakarta 27
Mei 2008, atau 3) kombinasi dari keduanya.
·
Dampak yang ditimbulkan
Semburan
dilanjutkan dengan luapan lumpur panas Sidoarjo telah menimbulkan bencana baik
korban manusia, menimbulkan masalah sosial kemasyarakatan (pengungsi
lingkungan), kerusakan perekonomian-infrastruktur, dan lingkungan hidup.
·
Pembentukan BPLS dan 4 misi utama
Pemerintah
membentuk Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang merupakan kelanjutan
dari Timnas PSLS dengan 4 misi yaitu: Penanggulangan semburan, penanganan
luapan lumpur, menangani masalah sosial, dan antisipasi dampak infrastruktur.
·
Luaran (Output)
Memulihnya sendi-sendi
kehidupan masyarakat: bangkitnya kembali sosial, ekonomi, infrastruktur,
budaya, ketertiban dan lingkungan.
Sistem
Semburan, Luapan, Implikasi, dan Penanggulangan
Keterkaitan
antara unsur-unsur pengendali mekanisme (driving
force mechanism), indikator semburan dan luapan di pusat semburan, serta
upaya menyetop permanen semburan (permanent
stopping eruption) atau mengurangi kecepatan semburan (decreasing flow rate) disederhanakan pada gambar di atas.
·
Anatomi: Kedudukan tektonik
geologi dan regional termasuk keberadaan komplek Volkanik Pananggungan dan
Sesar Watukosek, ukuran reservoir (sumber
air), sumber panas (thermal sources),
sumber lumpur ‘overpressure’,
geometri conduit atau sistem pengumpan (feeder
system), temperatur dan tekanan;
·
Pengendali mekanisme: pembentukan rekahan dan mekanisme aliran ‘jet steam’ dan proses erosi dan erosi
lumpur;
·
Kondisi semburan di Pusat
Semburan: Pola ‘geyser’
dengan parameter diamati di permukaan Kecepatan semburan (debit), tinggi kick atau gelombang, asap, komposisi air, lumpur,
gas, mineral, temperatur, kandungan Gas: H2S, CH4 (LEL), durasi, luas dan
ketebalan genangan;
Gambar
12. Memperlihatkan antara anatomi,
proses pembentukan, karakteristik serta upaya-upaya terkait Penanggulangan
Semburan.
·
Dampak berganda terutama
(pembebanan):
deplesi batuan sumber lempung yang tererosi, subsidence dari sag-like sampai sudden collapse, rekahan, patahan, serta bubble dengan air dan gas
metana.
·
Upaya mematikan atau
memperkecil debit semburan: snubbing unit; relief well 1,2; insersi bola-bola beton (ITB), berbagai usulan
termasuk double cofferdam atau tong
setan (Jepang), teori bournally
(ITS), menyumbat dengan batu andesit (Unbraw), atau meledakkan formasi bawah
permukaan .
Lusi dalam Kedudukan Tektonik Global,
Regional dan Lokal
Negara Kepulauan: Indonesia sebagai suatu
Negara kepulauan yang luas (archipelagic
state) dikarunia Sang Pencipta Allah SWT dengan tatanan geologi yang unik
dan komplek sehingga disatu sisi menyediakan suatu potensi sumber daya alam
tidak terbarukan (non-renewable
resources) seperti mineral, migas dan lain-lain; disamping itu berpotensi
menimbulkan bencana geologi (geohazard)
seperti gempa bumi, tsunami, meletus gunung api, tanah longsor, dan semburan
lumpur (mud eruption) atau mud
volcano.
Dalam Tektonik Dunia Baru: Negara
kepulauan Indonesia dalam tektonik dunia yang baru (new global tectonics) merupakan
pertemuan dari lempeng-lempeng litosfera utama (main lithospheric plate) yaitu Lempeng Kontinen Eurasia di bagian
barat laut yang relatif statif, Lempeng Samudera Hindia di baratlaut, bergerak
relatif ke utara, Lempeng Kontinen Australia di tenggara bergerak relatif ke
utara-baratlaut, Lempeng Samudera Pasifik di bagian timur yang bergerak relatif
ke barat, dan Lempeng Laut Filipina Barat bergerak relatif ke baratlaut.
Gambar
13 : Peta geologi dan Sona Transisi
Busur Sunda dari Cekungan Bali ke Flores , dimana pemulis telah menemukan beberapa mud
diapir dan mud volcano di lepas pantai, beberapa diantaranya berlokasi di
Cekungan Bali-Lombok yang mempunyai kelanjutan ke barat.
Sebagai
manifestasi dari pertemuan secara konvergensi lempeng-antara lempang (plate convergence) khususnya dari
Lempeng kontinen Eurasia dan Lempeng Indo-Australia dikenal sebagai suatu
sistem busur Sunda (Sunda Arc)
terutama mencakup Kawasan Barat Indonesia, dicirikan oleh berlangsungnya
fenomena zona penunjaman (subduction zone)
disertai dengan zone gempabumi aktif (active
seismic zone) disertai pembentukan parit dalam (deep trench) di lepas pantai, membentuk jalur gunung api (ring fire) yang memanjang dan menerus
dari Sumatera sampai ke Bali. Tatanan Geologi Indonesia Timur lebih komplek
lagi karena konvergensi melibatkan tumbukan (collision)
yang melibatkan tepian benua Australia dengan sistem Busur Banda (Banda Arc), ditambah lagi oleh komponen
Kerak Samudera Pasifik dan Filipina Barat.
Kerangka Geologi Regional
Jawa Timur: Dalam
kerangka tektonik lempeng Indonesia
(plate tectonic framework) Jawa Timur
terletak pada bagian ujung tenggara dari lempeng Eurasia
atau secara khusus (southeast Sunda Shield
Margin). Sejarah dan perkembangan geologi kawasan ini dicirikan oleh multi fase deformasi yaitu: 1) Mesosoikum
membentuk zona subduksi pada tepian benua
(continental margin), 2) tektonik ekstensi (extensional tectonic) pada Zaman Paleogen membentuk
struktur-struktur graben-half graben
diikuti oleh pembentukan cekungan ekstensi dan pengisian sedimen, 3) struktur
ekstensi tersebut diinversi menjadi tektonik kompresif, dengan membentuk
lipatan dan sesar naik.
Kedudukan daerah
Sidoarjo, Jawa Timur: Telah
lama diketahui bahwa daerah Sidoarjo, terletak dalam Cekungan Jawa Timur atau
lebih tepatnya pada Sub-Cekungan Porong-Sidoarjo (Sukendar, 2008) dicirikan
oleh sedimentasi yang cepat (fast
sedimentation rate), dan terdapat beberapa indikator pembentukan sumber
daya migas yaitu: 1) sumber batuan (source
rock), batuan reservoir (reservoir
rock), batuan penutup (cap rock),
perangkap migas terutama struktur (structural
trap) serta aliran panas (heat flow)
sebagai elemen proses pemasakan hidrokarbon (hydrocarbon
maturation).
Daerah
Sidorjo-Porong lebih spesifik terletak pada bagian busur belakang (back arc) dari komplek gunung api dari
busur depan (volcanic forearc region).
Komponen geologi yang penting berdasarkan data bawah permukaan (penampang
seismik) data pemboran antara lain: 1) pengendapan sedimen karbonat
(batugamping) dan selingan batupasir dengan komponen volkanik, dengan porositas
dan permeabilitas yang baik, dan 2) sedimen batuan lempung tebal dengan
kecepatan pengendapan yang tinggi dan ditandai oleh overpressure.
Di selatan terletak komplek gunung api
Arjuna-Pananggungan, yang memberikan induksi pada gradien temperature (temperature gradient) pada sistem panas
bumi (geothermal) termasuk imbuhan
pada air formasi (recharge water
formation).
Sesar Watukosek yang ditafsirkan keberadaannya mulai di
baratdaya pada komplek gunung Pananggungan, terus ke timurlaut melintasi dekat
pusat semburan Lusi, dan menerus sampai ke garis pantai Surabaya-Madura.
Gambar
14: Kedudukan Lusi terhadap G.
Pananggungan, Patahan Watukosek, pembelokan rel ditafsirkan sebagai gerakan
patahan Watukosek, dan penampang seismik memotong lokasi lumur BJP-1
memperlihatkan struktur diapir (modifikasi dari Mazzini et al., 2007).
Kedahsyatan dan Keunikan Semburan Lusi
Lusi
telah disebut-sebut sebagai salah satu semburan lumpur yang pertumbuhannya
paling cepat di seluruh dunia (the
fastest growing of mud flow in the world). Kedahsyatan lumpur Sidoarjo ini
tercermin dari karakteristiknya antara lain:
1) debit tertinggi semburan
mencapai 150.000m3/hari atau rata-rata 100.000 m3/hari dengan puncak semburan
mencapai 180.000m3/h (Mazzini et al., 2007);
2) temperatur permukaan
mendekati 100 derajat Celsius;
3) durasi semburan (eruption duration) yang telah sampai
pada 27 bulan, daerah terdampak mencapai sekitar 640-700 hektar dengan
ketebalan lumpur mencapai 10-21m;
4) perbandingan volume
sumber lumpur versus debit semburan memberikan potensi lama semburan antara 20
dan 30 tahun (data sementara).
Dari
karakter fisik tersebut tergambar betapa dahsyatnya pengendali mekanisme yang
berasal dari sumber di dalam perut bumi (interior
of the Earth sources), setelah melalui tahapan kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangannya
(birth, growth, and develop).
Besarnya debit semburan lumpur memberikan implikasi:
1)
Pond
Utama semakin dipehuhi oleh lumpur padu
(lama) dan lumpur panas (baru);
2)
Sistem
distribusi (pembuangan) lumpur dari tempat penimbunan di intake 37 dan Basin 41
yang dibangun sampai saat ini masih
belum dapat mengimbangi, total produksi lumpur dari pusat semburan ditambah
masukan eksternal dari air hujan;
3)
Konfigurasi
Pond Utama berbentuk segitiga menyempit ke utara, telah mengakibatkan tekanan
berlebih (overpressure) yang
ditimbulkan oleh faktor beban sendiri (self
loading) baik horisontal maupun vertikal menyebabkan Tanggul Utama di
sektor utara (T44-43) beberapa waktu belakangan ini sering mengalami kerusakan
antara lain retakan (crack), merosot (sliding), ambles (subsidence), dan patah (fault);
4)
Semakin
meningkatnya potensi kerusakan pada bagian utara Pond Utama termasuk pusat
semburan (eruption centre), mulut
kanal (canal mouth), dan overflow
44.2, sampai pada beberapa eskalasi telah memicu ditetapkannya situasi darurat (emergency condition). Pada kondisi
kedaruratan tersebut, sebagai salah satu langkah pengamanan (escape), lumpur dialiran ke utara
menuju Pond TAS. Bila hal tersebut terus berlangsung secara berkelanjutan,
dikhawatirkan dapat langsung menyerang keamanan tanggul-tanggul yang berada di
sebelah timurlaut (Tanggul lingkar dalam 1-5 Renokenongo). Karena sampai saat ini Tanggul Lingkar Luar
Glagaharum-Renokenongo belum berhasil dibangun (karena masalah sosial),
sehingga pada akhirnya berpotensi dapat memperluas PAT.
Dampak berganda
geohazard
Seiring berjalannya waktu kedahsyatan dari pengendali
semburan Lusi tersebut di bawah permukaan (subsurface),
dan luapan di permukaan bumi (surface of
the Earth), kondisinya semakin komplek dengan telah terjadinya dampak
berganda (multiplier impact) Lumpur
Sidoarajo terhadap kebencanaan geologi (geohazard),
antara lain:
1)
Penurunan tanah (land
subsidence) dengan intensitas mencapai 0,01 sampai 4 cm/per hari. Namun
yang menjadi perhatian masyarakat di dunia (the
World community) akhir-akhir ini adalah, dengan terjadinya fenomena
penurunan atau amblesan yang berskala dahsyat (subsidece or sag-like subsidence with spectacular scale phenomenaon) terutama di Pusat Semburan. Sehingga pakar kebumian (Geoscientists)
menyebutnya sebagai keruntuhan seketika (sudden
collapse) pusat semburan (eruption
centre). Dimana keruntuhan seketika ini yang pertama terjadi tanggal 18
Maret 2008 (disebut Interval ‘Collapse’
ke I) dengan intensitas sebesar 3 m dalam satu malam, dan kedua tanggal 2 Juni
2008 (disebut Interval ‘Collapse’ ke
II) dengan intensitas yang sangat menakjubkan, sebesar antara 4-7m dalam satu
malam.
2)
Patahan dan retakan
(faults and fractures) yang telah merusak struktur bangunan, sehingga
sebagian Desa Renokenono bagian selatan telah dimasukkan ke dalam Peta Area
Terdampak (the impact map area) ditetapkan
pada tanggal 22 Mei 2007.
Intensifnya pembentukan bubble atau semburan berdimensi kecil-menengah, atau secara genetik
disebut bualan. Yang mempunyai perbedaan cukup mendasar dengan asal-usul
kejadiannya (origin) dan skala dengan
pusat semburan, yang sampai Juni 2008 telah berjumlah 90 dan sekitar 40 diantaranya masih aktif (active bubble). Perlu dicatat bahwa
intensitas bubble sangat berfluktuatif
dapat dilihat dari: 1) hampir 50 % dari total bubble berada pada kondisi tidak
aktif, 2) bubble berskala besar di Jatirejo (ditepi jalan) dimana sebelumnya
demikian besar semburannya (> 5 m), pernah terbakar dan sulit dipadamkan, ternyata sekarang telah mati dengan
sendirinya, 3) bubble yang tidak aktif atau yang kecil bisa meningkat
intensitasnya.
Gambar 15. Kiri adalah salah satu diagram memperlihatkan evolusi lahir dan
berkembangnya Lusi mud volcano (Davies et. Al., 2007), sebelah kanannya
memperlihatkan gunung Lusi dilihat dari utara (Pond PerumTAS) disandingkan
dengan G. Pananggungan (gunung volkanik)
Data deformasi bumi (the
Earth deformation data) dihasilkan dengan menerapkan teknologi GPS dan satelit
InSar (Abidin et al., 2008) yang direkam antara Juni 2006 dan September 2007
memperlihatkan daerah sekitar pusat
semburan, telah tenggelam 0,5-14,5 m per tahun.
Peningkatan intensitas
geohazard dan implikasinya
Deformasi geologi (geohazard) yang intensif di sekitar Pusat Semburan yaitu:
1)
Amblesan
yang tergolong dahsyat di dasar pusat semburan, dengan total amblesan
mencapai 3 -7m yang terjadi hanya dalam waktu satu malam;
2)
Tanggul
44-43 berulang kali mengalami deformasi sampai Jebol;
3)
Tanggul
6-61 di Renokenongo mengalami amblesan (seperti terban) dengan panjang 75 m dan
kedalaman sampai 2,3 m.
4)
Fenomena
subsidence masih terjadi diperkirakan
dapat mempengaruhi keberadaan infrastruktur penahan luapan lumpur lainnya.
Sementara di Desa Siring Barat yang berada di luar
peta area terdampak kemunculan bubble
baru telah dapat ditangani oleh Tim Khusus yang dibentuk di bawah deputi
operasi. Sehingga diharapkan ke depan potensi geohazard dapat ditangani secara cepat dan profesional.
Dalam
kaitan ini hasil studi sementara yang dilaksanakan Badan Geologi
DESDM bekerjasama dengan Bapel BPLS (2008) menyimpulkan bahwa bubble tersebut
dipicu oleh efek pembebanan dari kolam penampungan lumpur (sediment loading) di dalam peta area terdampak, dan bubble tersebut mempunyai asal-usul
yang berbeda dengan pusat semburan.
Gambar 16: Citra satelit resolusi tinggi (5 m) memperlihatkan kerincian dari Pusat
Semburan yang diambil pada 26 Juni 2008, dapat diamati pembentukan kaldera atau
daerah depresi yang luas dinama bagian Tanggul Utama utara telah mengalami
penurungan membentuk morfologi cekungan (basin morphologic).
ISU AKTUAL
Gambar 17 :
Pengaliran Lusi dari Pusat Semburan pasca kejadian sudden collapse, sebelumnya
melalui Kanal Barat harus melalui jalur utama yang baru melalui Kanal Timur.
Lumpur Sidoarjo antara naluri alami dengan upaya manusia
Kondisi aktual saat ini
sebagai suatu Potret Lusi bahwa melewati umur yang kedua, di satu sisi lumpur
Sidoarjo telah tumbuh dan berkembang semakin mengikuti naluri alami (natural behaviour), dan disisi lain
diupayakan dikendalikan dengan kekuatan dan pemikiran manusia.
Tanggul-tanggul yang dibangun,
dipelihara untuk mencegah lumpur mengalir secara liar tidak terkendali, masih
belum sepenuhnya dapat menahan tekanan fisik (physical pressure), sehingga berulang kali terjadi tanggul jebol
di suatu lokasi tententu, sampai keruntuhan total atau masif.
Sistem pengaliran lumpur baik
yang alami dengan mengandalkan daya alami (natural
powered) terutama dikendalikan oleh
gradient topografi (topographic
gradient), maupun yang bertumpu kepada daya mekanik (mechanical prowered) yaitu alat-alat berat, walaupun telah
memperlihatkan peningkatan kinerjanya dari waktu ke waktu, namun secara
keseluruhan masih belum mampu mengimbangi laju seburan (rate of eruption).
Sehingga akumulasi lumpur di
dalam kolam penampungan semakin banyak, berimplikasi semakin meningginya
tanggul-tanggul yang sudah mendekati batas daya dukungnya (carrying capacity).
Demikian pula pengaliran
lumpur dari tempat ia diproduksikan dan disimpan semantara (temporary repository) menuju tempat tujuan akhir (the last distination) yaitu laut di
Selat Madura dengan media antara Kali Porong, masih belum optimal. Sehingga
dengan terpaksa lumpur masih dialirkan ke utara pada Kolam PerumTAS.
Semburan Lumpur Sidoarjo memasuki perkembangan baru pasca dua kali
mengalami keruntuhan seketika
Kombinasi proses alam
pengerosian batuan lempung di bawah permukaan (subsurface), dibarengi dengan dampak pembebanan (loading) dari lumpur secara berkelanjutan,
pada perkembangan waktu telah memicu terjadinya proses keruntuhan seketika di
sekitar kawah (suddently collapse).
Yang pada akhirnya memicu terjadinya deformasi bawah permukaan tanah, diikuti
dengan munculnya semburan bubble baru air dan gas di permukaan, termasuk di
luar Peta Area Terdampak.
Dihadapkan pada potret
semburan dan luapan lumpur Sidoarjo tersebut, suatu realita yang ada bahwa
sampai pada kurun waktu 2 tahun, upaya-upaya yang ditujukan langsung pada
penghentian semburan (stopping eruption) mulai
dari penerapan Snubbing Unit, Relief Well
1-2, insersi bola-bola beton, membangun struktur tanggul yang fleksibel
untuk menimbulkan efek tekanan hidrostatik
(counter hydrostatic pressure) sebegitu jauh masih belum memberikan hasil
yang optimal.
Konglomerasi (akumulasi) Masalah Mendasar Sosial Kemasyarakatan
Fenomena alami (natural phenomena) semburan dan luapan
lumpur Sidoarjo menjadi mengakumulasi semakin komplek dengan semakin meluas dan
meningkatnya permasalahan sosial kemasyarakatan (social human problems) yang dihadapi, sebagai dampak langsung atau
tidak langsung (direct or indirect
impact) semburan dan luapan lumpur.
Mulai bulan Agustus 2008 Bapel
BPLS akan dihadapkan 6 (enam) permasalahan sosial kemasyarakatan secara
berlangsung secara simultan, yaitu:
1) Pembayaran uang muka 20%: masih belum tuntasnya pelaksanaan
pembayaran uang muka 20%, termasuk didalamnya warga Pasar Porong Baru (PPB);
Gambar 18: Dimensi kewilayahan
memperlihatkan seiring waktu semakin luasnya wilayah penugasan Bapel BPLS yang
memberikan implikasi semakin meningkatkan intensitas gejolak permasalahan
sosial kemasyarakatan yang harus dihadapi.
2) Pembayaran tahap 80%: pembayaran tahap 80% berpotensinya
menimbulkan gejolak karena disatu sisi ekspektasi masyarakat sudah demikian
besar bahwa proses skema ’cash and carry’
akan berlangsung secara otomatis setelah melampaui pembayran uang muka 20%.
Tanpa mempermasalahkan aspek legal dokumen terkait. Sehingga tawaran solusi ’resettlement’ bagi yang tidak memenuhi
kriteria, masih belum sepenuhnya diterima. Disisi lain ketentuan yang dibangun
Minarak LPJ bahwa PIJB hanya mungkin disertai dokumen akte kepemilikan,
sehingga solusi bagi warga yang tidak memenuhi kriteria adalah melalui skema ’resettlement’ dikombinasikan dengan
kemungkinan ’bay back’;
3) Pembebasan tiga desa: keputusan Pemerintah untuk membebaskan Desa
Besuki, Pejarakan dan Gedungcangkring yang pelaksanaannya ditugaskan kepada
Bapel BPLS dengan mengikuti skema ’jual beli’ yang telah dilaksanakan oleh PT
Lapindo, dengan tujuan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan efisiensi
pengaliran lumpur ke Kali Porong masih belum tuntas dalam ketersediaan tindaklanjut
perangkat payung hukum;
4) Kelayakan huni 9 Desa diluar PAT: hasil Tim Kajian Independen yang
dibentuk Gubernur Provinsi Jawa Timur, masih menunggu kebijakan lebih lanjut,
mengingat Bapel BPLS merupakan Badan Pelaksana.
5) Pembebasan lahan dan bangunan untuk relokasi infrastruktur:
walaupun dana APBN telah tersedia untuk pelaksanaan relokasi infrastruktur di
wilayah barat dari genangan lumpur Sidoarajo, namun masalah mengemuka adalah
tahapan pembebasan lahan. Hal ini terutama masyarakat menghendaki harga yang ’apple to apple’ dengan skema harga ’cash and carry’ untuk wilayah di dalam
Peta Area Terdampak;
6) Normalisasi Kali dan Muara Porong di Selat Madura: sebagai konsekuensi penetapan berdasarkan
arahan Bapak Presiden bahwa pengaliran lumpur dari daerah produksi dan
penyimpanan sementara lumpur menuju pembuangan akhir di Laut menggunakan
mekanisme atau sarana Kali Porong, maka
Bapel BPLS harus melaksanakan normalisasi Kali Porong termasuk Muara sungainya.
Mengingat zona pantai (coastal zone)
mempunyai kompleksitas terhadap kepantingan berbagai sektor terkait, maka
implementasi misi tersebut harus dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian
secara integral dan holistik.
Peningkatan Sistem Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (Sidoarjo mudflow management)
Dengan memperhatikan tantangan
dan permasalahan mendasar yang dihadapi Bapel BPLS ke depan sebagaimana di
uraikan di atas, tergambar semakin meningkatnya dan meluasnya peran, tugas dan
tanggungjawab Bapel BPLS pada usianya yang baru sekitar limabelas bulan, maka
untuk mengantisipasi sekaligus meresponnya perlu dilakukan peningkatan proses
masukan (input process) dari keseluruhan
sistem penanggulangan (management system)
lumpur Sidoarjo meliputi empat proses perubahan (change process) yaitu: 1) upaya penanggulangan semburan, 2) upaya
pananganan luapan lumpur, 3) antisipasi dampak sosial kemasyarakatan, dan 4)
penanganan dampak infrastruktur termasuk relokasi.
Proses masukan (input process) yang merupakan
pembangunan kelembagaan (institutional
development) mencakup sumber daya manusia (SDM), ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek), data dan informasi (dataInfo), organisasi dan kelembagaan,
sarana dan prasarana, peraturan perundang-undangan, serta aspek pendukung
lingkungan hidup dan keamanan. Kondisi yang diharapkan adalah tercapai
peningkatan kinerja Bapel BPLS dalam menanggulangi fenomena lumpur Sidoarjo,
sehingga tercapai luaran (output)
yang ditetapkan dan sebagai outcome yaitu
dipulihkannya sendi-sendi kehidupan masyarakat sebagai dampak lumpur Sidoarjo.
Tantangan Mendasar dan Kondisi Yang Diharapkan
Pengaliran lumpur sampai ke Laut
Gambar19 : Misi
nasional Bapel BPLS dalam managemen Lumpur di Permukaan untuk secepatnya
mengalirkan Lusi ke Kali Porong, untuk seterusnya diangkut ke Laut.
Tantangan dari penanggulangan hari ke hari di lapangan yang cukup
fundamental saat ini adalah bagaimana mengoptimalkan pengaliran lumpur dari
pusat semburan, melalui kanal barat, selanjutnya dipompa dari intake ke Kali
Porong. Agar dapat mengantisipasi besarnya tingkat semburan (rate of
eruption), dimana hasil pengukuran terbaru menunjukkan nilai tengah sebesar
80.000 m3/hari
sedangkan nilai atas diduga masih di atas 120.000 m3/hari.
Bila sistem pengaliran lumpur ke Selatan dapat dilakukan. Maka fenomena pengaliran lumpur secara darurat ke utara ke dalam Pond
PerumTAS yang memberikan ancaman terhadap keamanan daerah di sebelah barat, utara,
timur dari Pusat Semburan sampai pada skenario jebolnya Tanggul Utama dan dapat
diminimalkan.
Bila luapan lumpur telah dapat dikendalikan, dikelola secara baik dan
berkelanjutan dengan meminimalkan dampak lingkungan, sehingga tidak mengancam
lebih jauh keselamatan masyarakat di sekitar Peta Area Terdampak. Maka pada
saat itulah segala upaya untuk menghentikan semburan (kill eruption)
dapat dilakukan. Namun dengan terlebih dahulu dilakukan pengkajian kelayakannya
secara komprehensif, integral dan holistik.
Permasalahan
sosial semakin memperumit upaya mencarikan solusi teknis penanganan luapan
lumpur
Bersamaan dengan masalah hulu
yang terkait semburan dan luapan lumpur, maka permasalahan lainnya yang
mengemuka adalah isu sosial terutama terkait pembayaran uang muka jual beli
lahan dan bangunan masyarakat oleh PT Minarak Lapindo Jaya (ayat 1-3, Pasal 15
Perpres 14/2007), di samping dampak sosial ikutan lainnya.
Sebagai dampak berganda dari masalah sosial,
saat ini upaya penanganan semburan dan luapan lumpur di dalam peta area
terdampak, juga telah mengalami ancaman langsung, termasuk diantaranya yang
mengemuka adalah warga sekitar intake dan spillway seringkali menghalang-halangi
operasional pengaliran lumpur ke K. Porong.
Kodisi tersebut telah mengganggu keamanan dan kenyamanan bagi Bapel BPLS
dalam mengoptimalkan segala daya, tenaga dan pikiran dalam melaksanakan misi
nasional terkait. Lebih jauh lagi kondisi sosial masyarakat, juga telah
memberikan kendala dan hambatan tersendiri dari upaya Bapel BPLS untuk mencapai
target relokasi infrastruktur umum, walaupun sudah sangat mendesak untuk segera
diwujudkan.
Perubahan Lingkungan
Strategis
Sampai pada umur yang kedua
tahun telah terjadi suatu perubahan lingkungan strategis (lingstra) yang cukup
bermakna, sehingga memberikan implikasi memperluas peran dan tanggung jawab
BPLS dalam penanggulangan lumpur, sebagaimana diamanahkan dalam Peraturan
Presiden No. 14/2008.
Aspek utama yang mempengaruhi perubahan lingkungan strategis yaitu dimensi kewilayahan, sehubungan meluasnya
wilayah penanggulangan lumpur Sidoarjo dan Implikasinya pada tanggungjawab dan
kewenangan Bapel BPLS.
Evolusi
perluasan wilayah penanggulangan lumpur adalah:
1)
8
April 2007 , wilayah penanggulangan lumpur Sidoarajo dalam
Peraturan Presiden No. 14/2007, fokus wilayah yang menjadi bagian adalah Daerah
dalam Peta Area Terdampak tanggal 22 Maret 2007. Selanjutnya daerah tersebut
dimaknai sebagai: a) batas terluar benteng pertahanan Bapel BPLS dibangun agar
lumpur tidak meluas, sehingga bila toh terjadi maka dampak sosial
kemasyarakatan akan menjadi tanggungjawab Pemerintah, b) batas wilayah terluar
dimana Lapindo mempunyai tanggung jawab atau kewenangan untuk melakukan upaya
penanggulangan semburan dan mengalirkan lumpur ke selatan (K. Porong) melalui
Tanggul Utama (Kanal), c) batas terluar dimana berlangsung proses jual beli
lahan dan bangunan milik masyarakat oleh Lapindo;
2)
Juni 2007, dengan ditetapkan alignment relokasi
infrastruktur ke arah barat dari Peta Area Terdampak, sehingga wilayah kerja
kedeputian infrastruktur Bapel BPLS telah diperluas;
3) November
2007, arahan Presiden RI terhadap pilihan opsi pembuangan Lusi dari pusat
semburan ke Laut dengan media K. Porong, maka wilayah pengelolaan
penanggulangan BPLS khususnya untuk menormalisasi K. Porong terhadap
sedimentasi lumpur sampai ke daerah Muara K. Porong (wilayah Selat Madura). Pada Muara K Porong beroperasi kapal keruk untuk membuka akses aliran
lumpur ke cekungan di Selat Madura;
4) Akhir Februari 2008, arahan Presiden RI tentang akan dilakukan
’pengadaan tanah untuk kepentingan umum’ yang mencakup tiga desa yaitu
Kedungcangkring, Besuki dan Pejarakan pasca jebolnya tanggul P-40 tanggal 10
Februari 2008, selanjutnya menjadi bagian dari wilayah Penanggulangan Lusi.
Pada bulan juli telah dikeluarkan Peraturan Presiden No. 48/2008 khusus sebgai
payung hukum atau kebijakan implementasinya yang dimandatkan pada BPLS.
Upaya dan Langkah yang Memberi
Dampak Signifikan
Penanggulangan
Semburan
Kecenderungan umum penghentian
semburan: Telah terjadi suatu kecenderungan baru (new trend), ditandai oleh terjadinya
beberapa kali periode semburan sangat
kecil sampai berhenti. Sebagai dampak positif telah membangkitkan rasa
optimisme bagi BPLS, terhadap upaya penghentian total semburan atau paling
tidak terjadinya pengurangan debit (volume)
semburan;
Strategi penanggulangan semburan: Mengoptimalkan keberadaan tanggul yang ada
(existing) dengan meninggikannya mencapai titik optimal (optimal point), serta
mengalirkan luapan lumpur dengan sistem dredger dan pompa-pompa lumpur jenis
Toyo secara tersebar (distributed out
flow), agar benteng Peta Area Terdampak 22 Maret 2007 tidak meluas;
Setelah Lusi dapat
dikendalikan, akan dilanjutkan dengan berbagai upaya penghentian semburan
lumpur dengan memperhatikan potensi dampak lingkungan yang terkecil, kedalamnya
termasuk opsi relief well-3 dan lain-lain.
Mengendalikan
semburan dengan terus memelihara dan memperkuat tanggul cincin di sekitar pusat
semburan (eruption center), dan memperlancar mekanisme pengaliran Lusi
pada tiga alternatif, yaitu ke selatan melalui tanggul kanal, ke arah timur
yang merupakan pola aliran yang alami (natural drainage pattern) saat
ini, serta langkah kedaruratan untuk mengalirkannya ke utara, yang semata-mata
dilakukan untuk mengamankan tanggul cincin ketika gelombang di pusat semburan
sangat besar.
Gambar20 : Berbagai upaya yang telah
diimplementasikan untuk penanggulangan semburan termasuk Relief Well 1-2 yang
belum memberikan hasil, dan usulan double cofferdam (Tong Setan) yang belum
dapat dilaksanakan, dengan pertimbangan Geohazard mengancam.
Prinsip
Penanganan luapan lumpur: Telah ditetapkannya pola tetap atau prinsip
penanganan luapan lumpur yang terdiri dari 6 (enam) aspek:
(a)
membangun kolam tampungan
seluas 600 Ha dengan kapasitas sekitar 54 juta m3 untuk menampung luapan
lumpur dengan debit 100.000 m3 per hari atau sekitar 1 juta barel. Jumlah
ini analogi kira-kira dengan seluruh produksi minyak bumi Indonesia saat ini,
yang keluar dengan terlebih dahulu dipompa dari batuan reservoir;
(b)
pada musim hujan kolam lumpur
dikeruk dan dikosongkan dengan dredger, dan lumpurnya dialirkan ke Kali
Porong, sehingga dapat menampung lumpur pada musim kemarau;
(c)
Pengaliran lumpur ke Kali
Porong didistrubsikan (distributed
outlet) melalui beberapa titik di hilir dari spillway, sedangkan selama ini
pengaliran lumpur dilakukan secara terpusat (concentrated
distribution) di sekitar rumah pompa;
(d) meningkatkan kapasitas kali porong untuk menjaga kinerjanya dalam
pengendalian banjir di wilayah kali Berantas; dan
(e)
pemanfaatan lumpur di pesisir
pantai untuk reklamasi.
Dukungan alternatif
pengaliran Lusi melalui Kali Porong:
Untuk memperkuat rasionalisasi
alternatif pembuangan Lusi ke laut melalui K. Porong, beberapa pandangan para
ahli geologi salah satu diantaranya Prof. Dr. Koesoemadina, adalah:
(1)
Lusi secara geologis berasal
dari formasi batuan lumpur berumur beberapa juta tahun, yang diendapkan di
lingkungan Selat Madura purba (paleo Madura Strait);
(2)
Kandungan mineral Lusi yang
merupakan hasil dari fenomena alami atau geologi (natural or geological
phenomena) diyakini tidak mengandung unsur-unsur kimia yang berada pada
tingkat yang membahayakan lingkungan; dan
(3) Pembuangan Lusi ke Laut mengandung makna Lusi diantar dari posisi Selat
Madura purba yang berada di bawah permukaan (subsurface) dari daerah
luapan lumpur, untuk selanjutnya dikembalikan ke tempat asalnya pada Selat
Madura modern (modern Madura Strait).
Gambar
21: Kondisi Kali Porong saat ini dengan sedimentasi Lusi yang signifikan di
hulu (spillway) dipandingkan dengan Kondisi September 2007, ketika Bapel BPLS
dihadapkan pada masalah rumit bangaimana menormalisasi K. Porong yang belum
pernah dilakukan secara besar-besaran.















Komentar
Posting Komentar