DINAMIKA LUSI NOVEMBER 2011
Dinamika Lumpur Sidoarjo
November 2011
Dikontribusikan oleh: Hardi Prasetyo
Dikontribusikan oleh: Hardi Prasetyo
Benang Merah:
Pelaksanaan
misi penanggulangan lumpur Sidoarjo November 2011, secara keseluruhan menunjukan
terjadinya suatu peningkatan dinamika yang mencakup beberapa aspek utama yaitu
paradigma baru payung hukum, postur/perilaku semburan dan luapan lumpur,
gejolak sosial kemasyarakatan, dan pengembangan kelembagaan.
Disamping itu,
salah satu fokus kedepan adalah aktualisasi
kesiapan BPLS menghadapi musim hujan tahun 2011 dan 2011.
Kondisi
pada awal
Oktober-November
2011 merupakan suatu transisi cuaca, dari puncak musim panas ke musim
penghujan.
Hasil evaluasi
menyeluruh dari musim panas tersebut telah menunjukkan fakta adanya peningkatan
intensitas dari beberapa indikator.
Kilas balik
menunjukkan bahwa tanpa adanya masukan air hujan (meteoric water), pada Oktober 2011 telah terjadinya beberapa
kejadian yang mempunyai implikasi, yaitu:
Ø Aliran ‘banjir
bandang’ lumpur dingin dan panas yang langsung mengarah pada daerah operasi
kapal keruk di sektor Jatirejo, sehingga terdorong sampai lebih 50 m ke selatan;
Ø Perubahan rona
lingkungan yang drastis di Zona Osaka -Putul-Barata,
sebelumnya di permukaan merupakan lumpur padu, berubah menjadi daerah aliran
lumpur baru; dan
Ø Gerakan horizontal
lumpur padu yaitu rayapan dan longsoran, sehingga telah memberikan dampak pada
jaringan tanggul penahan lumpur.
Hal-hal tersebut, sehingga
memberikan peringatan dini untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi
musim hujan ke depan, terutamanya bila terjadi hujan dalam intensitas yang
ekstrem.
Ø Perubahan paradigma baru kebijakan strategis dan
operasional
Selama kurun
waktu laporan ini juga telah berkembang wacana ketidak pastian dan suatu hal yang
dilematis, karena masih menunggu diberlakukannya Peraturan Presiden No. 68/2011 tentang perubahan ketiga atas Peraturan
Presiden 14/2007 tentang BPLS. Payung hukum baru ini terutama dikaitkan dengan pengaturan
penanganan sosial kemasyarakatan pada wilayah 3 Desa dan 9RT di luar PAT.
Kondisi
dilematatis yang dimaksud adalah karena di satu sisi warga tiga desa dan 9 RT
di luar PAT menghendaki agar Perpres 68/2011 tersebut segera diberlakukan.
Di sisi lain
warga 18 RT di Desa Mindi telah memberikan ancaman yang dapat mengarah sampai terjadinya
konflik horisonal, apabila 3 RT di desa Mindi menerima skema bantuan sosial dan
pembelian lahan dan bangunan, sebagai konsekuensi bahwa wilayahnya telah
dimasukkan ke dalam PAT.
Ø Postur semburan dan aliran lumpur padu
Postur Lusi masih
diwarnai oleh adanya aktualisasi semburan baru disebut Bungsu, yang telah lahir
kembali pada 10 September 2011.
Pada Oktober
2011 telah mengindikasikan adanya peningkatan intensitas semburannya bila dibandingkan
dengan titik kontrol (benchmarking)
pada akhir Mei 2011, yaitu saat dilaksanakannya even Internasional ‘Lusi Expert
Gathering’ bertempat di Lusi Dome.
Namun secara
umum/makro evolusi semburan Lusi tetap berada pada transisi dari tahapan
semburan besar (kecepatan rata-rata mencapai 100.000 m3/hari) dan liar yang
menerus tanpa putus dan bersifat merusak.
Beralih ke
perioda semburan menuju ‘dormant’, dicirikannya
oleh karakteristik pola semburan ‘geyser’.
Yaitu
perulangan periodesasi antara semburan besar dengan semburan kecil sampai yang
ekstrem berhenti atau di lapangan disebut ‘semburan tidur’. Dimana total tahap
‘pause’ (berhenti) terindikasi semakin
lama/panjang.
Evaluasi dan peringkat pengendali mekanisme bahaya musim hujan
Berdasarkan kondisi sampai pada November 2011 maka dapat diperkirakan empat
kerawanan yang dapat menimbulkan kondisi bahaya yaitu:
Ø Daya dukung tanggul dan limpasan fluida di Zona Barata
Putul sektor barat laut Lusi, dipicu oleh gerakan lumpur padu pada lereng bawah
dan limpasan fluida dari kawah, pasca lahirnya semburan Bungsu.
Ø Limpasnya lumpur dari Zona TAS ke utara (Dataran
Ketapang), dipicu oleh masih terbukanya bagian tanggul P68 pasca mengalami
jebol dikendalikan oleh gerakan lumpur padu ke utara sepanjang Patahan P68.
Ø Limpasan air dan
atau lumpur dari Pond Ketapang ke arah Kali Ketapang, karena saat ini untuk
mengamankan Tanggul sepanjang Osaka-Siring, telah dilakukan pengaliran ke
utara, masing-masing melalui overflow dan dua sodetan. Mengingat daya tampung
Pond Ketapang terbatas, sehingga pada skenario pengaliran berlangsung dengan
intensitas tinggi dan dalam waktu yang lama maka daya tampung Pond Ketapang
dapat dilalui.
Ø Melimpas air dari Pond Reno, hal ini karena elevasi Pond
Glagaharum diupayakan untuk dijaga seminimal mungkin. Yaitu dengan pembuatan
tanggul sebagai pemisah, dan pompa untuk mengalirkan air ke Pond Rengo. Bila
pengaliran melalui kapal keruk dari Pond Reno mengalami hambatan, dikhawatirkan
Pond Reno dapat mengalami limpasan air.
Paradigma Baru Kebijakan Penanggulangan Lusi
Alur Pikir Prespres 68/2011
Peraturan Presiden Nomor 68/2011 tentang perubahan ketiga atas Perpres
14/2007, diharapkan sebagai payung hukum untuk menangani masalah sosial
kemasyarakatan khususnya pada 9 RT dan 3 Desa diluar PAT, dengan pola pikir
diringkas sebagai berikut:
Ø Kondisi Yang diharapkan: Dapat mengefektifkan
upaya penyelesaian penanganan masalah sosial kemasyarakatan di wilayah luapan
lumpur Sidoarjo.
Ø Penetapan wilayah 9 RT masuk PAT: Wilayah 9 RT di
Desa Siring Barat, Jatirejo, dan Desa Mindi masuk ke dalam PAT.
Ø Wilayah penanganan di luar PAT 3 Desa dan 9 RT: Ditetapkan dengan Perturan Presiden, berdasarkan kajian Tim Terpadu yang dibentuk oleh Dewan
Pengarah BPLS.
Ø Penanganan sosial kemasyarakatan di 3 Desa dan 9 RT di
luar PAT: Dilakukan dengan pembelian tanah dan bangunan.
Ø Skema Pembayaran untuk 3 wilayah Desa di Luar PAT: Secara bertahap 20, 30, 20, 20, dan sisanya sesuai
ketentuan yang berlaku.
Ø Penanganan masalah Sosmas di 9 RT di luar PAT: Dilakukan bertahap, dengan skema 20% (2010), dan
sisanya (80%) dibayarkan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.
Ø Besarnya bantuan sosial den pembelian tanah dan bangunan bagi masyarakat di 9 RT: mengacu besaran yang dibayarkan pada
masyarakat di 3 desa;
Ø Tahapan selanjutnya pasca pengosongan 2 Tahun: Dilakukan pembelian tanah dan bangunan di wilayah
tersebut, serta diberikan bantuan sosial kemasyarakatan.
Pemahaman dan penerapan paradigma baru
Substansi dari Perpres 68/2011 menggunakan beberapa acuan Peraturan
Presiden yang sebelumnya telah dirubah dua kali.
Peraturan Presiden 48/2008 (Perubahan pertama), sebagai acuan terhadap
mekanisme penentuan besarnya bantuan sosial kemasyarakatan dan harga tanah dan
bangunan di luar PAT, dengan dua kata kunci yaitu dilakukan dengan musyawarah
memperhatikan keadilan serta mengacu harga yang ditetapkan Lapindo di dalam
PAT.
Peraturan Presiden 40/2009 (perubahan kedua), terutama terkait pemberian
otoritas penuh kepada BPLS dalam mengendalikan upaya penanggulangan semburan
dan pengaliran lumpur ke Kali Porong, serta penanganan masalah sosial
kemasyarakatan pada wilayah 9 RT yang telah dinyatakan kondisinya tidak layak
huni.
Pada Perpres 68/2011 mengaktualisasikan tahap pembayaran pembelian tanah
dan bangunan bagi 3 desa di luar PAT, dengan skema pembayaran yang dikaitkan dengan ketentuan yang berlaku.
Sedangkan untuk 9 RT mendapatkan kepastian bahwa wilayahnya dimasukkan ke
dalam PAT, dengan skema pembayaran menganut besaran tahap 20% dan sisanya
dibayarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Disamping itu
telah diberikan arah kebijakan bahwa penanganan masalah sosial bagi wilayah lainnya di luar 3 desa dan 9
RT tersebut yang terkena dampak luapan
lumpur, ditentukan berdasarkan hasil kajian dari Tim Terpadu yang dibentuk oleh
Dewan Pengarah BPLS.
Presentasi Timdu
Ø Sesuai dengan PP 68/2011, ayat (1b) maka wilayah penangan
luapan lumpur di luar wilayah 3 Desa dan 9 RT di luar PAT 22 Maret 2011 yang
terkena dampak semburan lumpur, ditetapkan
dengan Peraturan Presiden berdasarkan kepada hasil kajian Tim Terpadu
yang dibentuk oleh DP.
Ø Pada akhir Oktober 2011 hasil kerja Tim Terpadu (Kajian
Kelayakan Dampak Lusi) telah disampaikan dan dipresentasikan kepada Menteri PU
selaku Ketua DP BPLS, yang telah membentuk Timdu, dengan alur pikir:
(1)
Metodologi yang
diterapkan menggunakan tumpang susun (overlay)
dari aspek utama kondisi geologi, didukung oleh aspek sosial dan lingkungan;
(2) Menentukan peta
wilayah bahaya baru yang mencakup PAT, 3 Desa, 9RT, dan di luar PAT yang
keseluruhannya terdiri dari puluhan RT dari beberapa desa dan ditambah dengan daerah
persawahan; (3) perkiraan dana yang diperlukan untuk mengimplementasikan; dan
(4) saran-saran terkait multidimensi.
Potret Lusi Saat ini
Postur semburan Bungsu memperlihatkan suatu kawah yang luas, dengan sumbu
panjang lebih mengarah ke barat-baratdaya.
Posisi kawah pada rekaman citra satelit 15 Oktober 2011 telah bergeser sejauh 246m ke barat, sementara
sumbu panjang kawah berarah barat baratluat-timur timur laut. Sehingga
orientasi struktur mud volcano Lusi ini
dapat memberikan implikasi terhadap peningkatan deformasi geologi di daerah
barat dari keseluruhan sistem Lusi mud volcano.
Kondisi luapan lumpur dari sistem semburan Bungsu, juga telah
memperlihatkan adanya peningkatan intensitas, namun berlangsung secara
sewaktu-waktu (khusus), sedangkan yang umum luapan masih dicirikan oleh air
yang mengalir melalui sisem Sungai Lusi.
Dinamika dari aliran fluida dari kawah Lusi saat ini adalah di zona
Barata-Putul (barat Lusi), yang telah berubah menjadi daerah genangan fluida,
dengan rona lingkungan berwarna putih keabu-abuan, pola aliran yang jelas
mengarah ke baratlaut.
Perilaku
aliran lumpur juga terus diwarnai oleh berlangsungnya rayapan dan longsoran,
dibarengi pembentukan struktur punggungan sempit yang memanjang searah tanggul
(menunjukkan indikasi adanya tekanan kompresif), sehingga memberikan implikasi
negatif pada daya dukung tanggul di barat gunung Lusi.
Peningkatan
pemahaman semburan dan luapan Lusi
Tim Riset Lusi mud volcano dari Arizona State University, USA, pada bulan
Oktober melakukan kerja lapangan di Lusi dengan fokus memantau postur semburan,
dan mendapatkan contoh dari komposisi gas, fluida, dan lumpur yang dikeluarkan
Lusi Bungsu.
Hasil pendahuluan terhadap evaluasi semburan dan perilaku Lusi Bungsu,
mengkonfirmasi telah terjadi adanya perulangan
interval peningkatan intensitas semburan Lusi Bungsu.
Dalam upaya untuk lebih mengklarifikasikan potensi ancaman yang dapat ditimbulkan
oleh semburan Lusi Bungsu, luapan lumpur cair, dan gerakan lumpur padu,
khususnya pada zona tumbukan TAS, Osaka, Putul, dan Barata, sebagaimana
ditunjukkan oleh hasil riset tim ASU. Telah dilakukan optimalisasi eksplorasi
ke gunung Lusi, yang hampir mencakup seluruh wilayah terdekat seputar kawah
Lusi.
Hasil penjelajahan gunung Lusi ini telah berhasil mengkonfirmasikan
beberapa postur Lusi mud volcano saat ini, khususnya yang berpotensi memberikan
potensi ancaman. Sebagai informasi berharga untuk mengantisipasinya.
Dinamika Zona Barata
Zona Barata-Siring menempati posisi strategis di sebelah barat sistem mud
volcano, berhadapan langsung dengan jalan raya dan rel kereta yang mempunyai
nilai ekonomis.
Sejak mengalami kenaikan muka lumpur yang signifikan terjadap elevasi
tanggul atas, maka wilayah tersebut mendapatkan perhatian dari BPLS, agar
mengurangi perulangan kejadian pada musim hujan.
Adapun alur pikir dinamika zona Barata diuraikan di bawah ini:
Ø Berdasarkan evaluasi citra satelit CRISP 15 Oktober 2011,
menunjukkan fakta bahwa semburan Bungsu posisinya bergerak sekitar 240 m ke
arah barat dari posisi sebelumnya yaitu diindikasikan pada citra satelit 9 Agustus 2011. Sedangkan sumbu
panjang kawah lebih mengarah barat baratlaut-timur tenggara;
Ø Punggungan di
bagian lereng atas yang sebelumnya berfungsi sebagai penghalang aliran
langsung ke lereng bawah, saat ini telah runtuh. Sehingga berkembang pola aliran lumpur ke arah barat laut (arah
Putul-Karka);
Ø Bagian lereng bawah di susun oleh lumpur padu, secara
berlanjut telah mengalami perayapan (creeping),
atau longsoran (sliding) ke arah
tanggul (barat), sehingga memberikan dampak pada daya dukung tanggul;
Ø Muka lumpur padu di
depan tanggul Barata, hampir sama tinggi dengan elevasi puncak tanggul;
Ø Berkembang struktur patahan geser (strike slip) dan deretan punggungan (morfologi punggunan sistem
gunung Lusi) yang memotong struktur patahan blok radial (pembentukan kaldera)
dan daerah depresi yang memotong arah umum dari punggungan antiklin
(utara-selatan);
Ø Daerah depresi atau morfologi Palung dibatasi oleh
punggungan berarah baratlaut diisi oleh fluida yang meluap dari jalur di lereng
atas yang telah terbuka. Termasuk lebih 3 kali terjadi perulangan interval
luapan lumpur dari Bungsu;
Ø Pada bagian depan Tanggul Barata (sepanjang 25 m), lokasi
pipa outlet Pompa Barata, di barat parit sempit (narrow trench) telah
mengalami tekanan, terangkat. Namun
tidak separah dari kejadian 13 September 2011;
Ø Dilaporkan terjadi indikasi awal ’deformasi’ di belakang
tanggul, tepatnya pada aliran drainase di sektor Barata.
Alur Pikir Menghadapi Musim Hujan
Musim hujan sudah disepakati memberikan dampak tersendiri terhadap misi
pengendalian semburan dan luapan lumpur. Pengalaman selama lebih empat tahun
menunjukkan bahwa tanggul-tanggul penahan lumpur umumnya mengalami jebol pada
musim hujan.
BPLS telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi menghadapi musim penghujan
2011-2012 diringkas sebagai berikut.
Kondisi Awal
dicirikan oleh:
(1) Adanya perubahan
rona lingkungan di dalam dan di luar PAT;
(2) Deformasi atau dampak geohazard
di luar PAT; dan
(3) Kondisi tersebut dapat memberikan dampak terhadap
infrastruktur di sekitar PAT.
Isu aktual, yaitu:
(1) Postur baru semburan lumpur dari Lusi Bungsu, yang
menunjukkan indikasi perulangan peningkatan secara periodik semburan dengan
intensitas besar;
(2) Fenomena gerakan
lumpur padu, sampai pada yang ekstrim menyentuh atau menekan ke depan, terhadap
jaringan tanggul penahan lumpur;
(3) Terjadinya aliran lumpur baru, terutama ke
arah barat dan baratdaya (selanjutnya disebut arah Karka), yang berasal dari
Kawah Bungsu; dan
(4) Pasca terjadinya jebolan di P78, sehingga tanggul yang
jebol tersebut merupakan pintu ke luar dari air di sektor TAS utara.
Pengelolaan Resiko, diskenariokan sebagai berikut:
(1) Daya dukung
tanggul dan limpasan fluida di sektor barat laut Lusi. Gerakan lumpur padu (lumpur lama telah mengalami
pemadatan vertikal dan horisontal) dan luapan baru dari daerah kawah Lusi dengan itensitas yang
tinggi, di sekitar zona Barata-Putul. Implikasi pada daya dukung tanggul dan potensi
limpasan fluida;
(2) Limpasnya lumpur dari
Zona TAS ke utara (Dataran Ketapang). Pasca jebol tanggul P68, sampai saat
ini jebolan masih terbuka, sehingga menjadi pintu keluaran lumpur encer atau fluida
yang berasal dari kawah Lusi utara. Dapat keluar PAT, masuk ke Kali Ketapang;
(3) Limpasan air dan atau lumpur dari
Pond Ketapang ke arah Kali Ketapang. Saat ini Pond Ketapang, berperan
sebagai zona pelindung (buffer zone). Untuk menampung lumpur padu dari sodetan
P69 dan P70, menampung air dan lumpur halus
yang terakumulasi di Cekungan Osaka. Selanjutnya dialirkan melalui
overflow di P71. Karena keterbatasan daya tampung dari Pond Ketapang,
dikhawatirkan pada kondisi aliran yang ekstrem (hujan ekstrem) maka Pond
Ketapang dapat dilampaui daya dukungnya. Mengakibatkan limpasan ke arah utara
atau timur; dan
(4) Melimpas air dari
Pond Reno. Akumulasi air
terbesar yang alami saat ini di Pond Glagaharum, upaya mengendali volume
dilakukan dengan pembuatan tanggul yang memisahkan dengan Pond Reno di
selatannya dan pemasangan pompa mengapung (floating
pump) untuk mengalirkannya ke Pond Reno. Pada musim hujan aliran dari
selatan gunung Lusi akan masuk ke P 43, sehingga bila ada permasalahan dengan
operasi Kapal keruk dikhawatirkan volume di Pond Reno akan menaik, berlanjut
melimpas.
Upaya inovasi
baru yang telah ditempuh, yaitu:
(1) Revitalisasi tanggul barat Gunung lumpur, antara lain dengan
peninggian dan perkuatan lumpur di bagian dalam. Di dalamnya termasuk
pemeliharaan saluran sempit di depan tanggul;
(2) Pengaliran lumpur padu secara
alami melalui Sodetan 70 dan 69, sudah dilaksanakan sejak September 2011,
ditujukan untuk dapat mengurangi tekanan di dalam gunung Lusi yang disebabkan
oleh gerakan lereng gunung kearah tanggul penahan lumpur. Namun lumpur padu
yang mengalir melalui sodetan tersebut masih belum memenuhi harapan, sehingga
masih menunggu faktor pelicin, yaitu air pada musim hujan; dan
(3) Membuat
tanggul baru untuk memisahkan Tanggul Reno (selatan) dengan tanggul Glagaharum
(utara), agar ketinggian permukaan air di Pond Glagaharum dapat dikendalikan
menggunakan pompa, dan memasukkannya ke Pond Reno.
Arah Kebijakan, Strategi, Langkah Terpadu:
(1) Paradigma
semburan: Aktualisasi pemahaman
terhadap terjadinya perubahan cukup signifikan dari postur semburan dan luapan,
dalam kontek potensi bahaya yang masih mungkin ditimbulkannya;
(2) Peningkatan
Monev: Tingkatkan Monev (monitoring
and evaluation) berkelanjutan, pada
daerah khusus yang mempunyai potensi terjadinya kondisi bahaya;
(3) Bangun tanggul Kedungbendo: Upaya
khusus bangun tanggul Kedungbendo, di utara Tanggul TAS, sebagai alat pengaman
berjangka menengah dan panjang. Untuk mengurangi volume dan tekanan di dalam
kolam mengantisipasi pertumbuhan morfologi mud volcano;
(4) SOP
kondisi bahaya: Memantapkan SOP dan pelatihan simulasi kondisi ‘Bahaya’
di lapangan baik internal, pemangku kepentingan terkait, dan publik;
(5) Percepatan
relokasi infrastruktur: Peningkatan dan percepatan pembangunan relokasi
infrastruktur baik jalan arteri yang berada langsung di bawah kendali BPLS,
atau jalan Tol dan rel kereta api (di bawah kendali lembaga terkait lainnya).
Hal ini untuk langkah strategis dalam kondisi darurat yang ditimbulkan pada musim
hujan, khususnya pada sektor barat;
(6) Minimalisasi
gejolak sosial kemasyarakatan: Melalui sosialisasi dan
implementasi Perpres 68/2001 dan Perpres sebagai tindaklanjut hasil kajian
daerah berbahaya oleh Timdu. Perkiraan keadaan menunjukkan bahwa bila kedua
payung hukum tersebut ke luar, dapat menimbulkan potensi memicu gejolak sosial
baru khususnya di dalam PAT terkait Perpres 14/2007. Bila hal tersebut terjadi,
pada akhirnya akan terkait langsung dengan misi BPLS dalam melaksanakan upaya
penanggulangan lumpur dan mengalirkan lumpur ke Kali Porong;
Peningkatan
Sistem Pengamanan Internal Bapel BPLS :
Dengan sasaran strategis ke depan menuju Pam Obvitnas. Seiring dengan
meningkatnya gejolak sosial kemasyarakatan baik di dalam PAT maupun di luar PAT,
sebagai konsekuensi logis gangguan keamanan pada wilayah kerja BPLS makin
meningkat.
Gangguan di dalam PAT, terutama pada kondisi serangan pada Zona Barata berada pada titik ’kritis,
bila terjadi pada skenario yang paling buruk ’blokade wilayah kerja BPLS’ dapat
memberikan dampak yang fatal; dan
Proses masukan
Sistem Penanggulangan Lusi:
Pemantapan Proses Masukan dari Sistem Penanggulangan Lumpur Sidoarjo
mencakup SDM, Iptek, Data, Sarpras, Peraturan Perundangan, Organisasi dan
Sumber Daya, dll.
Sampai memasuki tahun ke lima misi BPLS, fakta lapangan menunjukaan bahwa
tantangan yang dihadapi terus berkembang sangat dinamis dan sering terjadi tanpa
di duga sebelumnya. Disamping itu semburan masih berlangsung pada perulangan intensitas
yang tinggi.
Sementara itu semakin mengkristal pemahaman ilmiah maupun non-teknis bahwa
semburan lumpur Sidoarjo sebagai mud volcano yang terbesar di dunia, sulit
sampai tidak dapat dihentikan sehingga dapat/akan berlangsung lama.
Karena itu upaya peningkatan kinerja keseluruhan dari proses masukan akan
dapat mengoptimalkan keluaran dan outcome dari sistem Penanggulangan Lumpur
Sidoarjo.
Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian
Perlunya pengkajian anatomi dan mekanisme semburan dan
dampaknya pada wilayah barat
Perlu dikaji secara komprehensif terhadap postur dan perilaku semburan Lusi
yang memperlihatkan peningkatan intensitasnya walaupun tetap dalam tingkat
kecenderungan masuk ke transisi dari tahap semburan liar ke tahap dormant.
Hal yang sangat kritis adalah bila pergerakan kawah Lusi ke luar dari
kecenderungan umum dibatasi oleh patahan kaldera melingkar. Demikian pula
meningkatnya intensitas semburan Lusi juga dapat meningkatkan kembali upaya
berbagai pihak untuk melakukan penghentian semburan, antara lain dengan melakukan
pembunuhan dengan Relief Well.
Aktualisasi paradigma pengaliran lumpur panas
Paradigma lama terhadap pengaliran selama ini adalah mengalirkan lusi
sebanyak-banyaknya pada musim hujan ke Kali Porong.
Pemahaman ini berkembang, karena sejak tahun 2006 sampai tahun 2009,
semburan Lusi mengeluarkan lumpur panas yang merupakan campuran padatan dan
cairan (30:70 dan berfluktuasi), dengan volume rata-rata 100.000m3/hari,
sehingga pemahaman dan strategi yang dikembangkan menyesuaikn dengan tantangan
saat itu.
Sejak awal tahun 2010 postur dan perilaku semburan Lusi telah berubah
drastis, karena material yang dikeluarkan semburan Lusi terutama hanya air
dengan sedikit fluida, dan tantangan baru adalah banjir bandang serta gerakan
lumpur padu ke arah tanggul.
Fakta nyata adalah jebolnya tanggul P68 dan penanganan lumpur padu di Osaka
P70, yang berbeda drastis dengan mengalirkan lumpur cair. September 2011
kondisi kembali berubah, dimana tantangan luapan lumpur saat ini terutama
gerakan lumpur padu terbatas pada Zona sentuh dengan jaringan tanggul,
dibarengi dengan luapan lumpur baru yang lebih encer dan banjir badang disertai
’debris flow. Sampai saat ini metoda menghadapi gerakan lumpur padu, masih
mengutamakan defensif yaitu revitalisasi tanggul, dan pemindahan lumpur padu
(model Osaka), namun masih terbatas intensitasnya.
Pemindahan lumpur padu dalam volume yang besar memerlukan suatu tempat
pembuangan akhir yang luas, dan ini antara lain tersedia bila BPLS dapat
membuat Tanggul di sektor Kedungbendo.
Dengan demikian maka perlu redivinisi dan aktualisasi strategi yang
sebelumnya mengalirkan lumpur panas ke Kali Porong, menjadi mengalirkan lumpur
ke kali Porong dan memindahkan lumpur padu ke suatu tempat tertentu dengan
alternatif pada Pond Kedungbendo yang tidak ada pilihan lain harus segera
dibangun.
Komentar
Posting Komentar