BERKUNJUNG PADA HUT LUSI 12 TAHUN: MASIH BERTENAGA, PERULANGAN SEMBURAN BESAR DAN PANAS


BERKUNJUNG PADA  
HUT LUSI 12 TAHUN
MASIH BERTENAGA, PERULANGAN SEMBURAN BESAR DAN PANAS


EVEN LUSI 12 TAHUN 2018, BAGIAN DARI SEJARAH MISI NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA LUSI 2006-2018:


Dikontribusikan Oleh: Hardi Prasetyo
"Sciences Manager" Misi Nasional Penanggulangan Bencana Lusi 2006-2017

1) Saresehan dengan Pimpinan PPLS, untuk Transisi Pelaksanaan Penelitian Lapangan dari Tim LUSI LAB tahun 2018, sebelumnya merupakan kerjasama Studi Ilmu Kebumian di LUSI dengan BPLS, akan dialihkan ke PPLS. Kegiatan lapangan tahun 2018 akan dilaksanakan pada September 2018, Payung Kerjasasma PPLS-LUSI LAB telah ditandatangani September 2017;

2) Mengintegrasikan Hasil Kegiatan Penelitian Ilmiah Lusi dengan berbagai institusi, terutama yang telah dipublikasikan pada Media Ilmiah Internasional tahun 2018 dan 2017, antara lain: 
Edisi Khusus LUSI di Journal Marine and Petroleum Geology (MPG 2017 - 17 makalah), Presentasi Lisan dan  Poster  tema khusus "struktur pembubungan Lusi" pada Pertemuan Tahunan EGU 2018-2017. 
Satu makalah ilmiah terpilih diterbitkan pada  Journal Geological Soceity of London, UK (GSL) 2017 "GEOHAZARD DI INDONESIA: ILMU KEBUMIAN UNTUK PENGURANGAN RISIKO BENCANA", Naskah Dr. Ir. Andreas "Deformasi Penurunan Tanah di Lusi mud volcano: untuk mengindikasikan Pemicu semburannya".

3) Mengevaluasi Dinamika Postur Lusi berdasarkan Iptek Penginderaan Jauh yaitu berbagai Citra indraja Satelit (termasuk InSAR), Citra Helikopter, dan Citra Drone berselang waktu sejak Lusi belum lahir (2006) sampai terakhir Rekaman Drone membuktikan secara meyakinkan Perilaku Lusi telah mengalami perulangan even semburan besar;

4) Menggelorakan Paradigma HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA: Dinamika menuju Pesona Geowisa-GeoPark Lusi.

5) KUNJUNGAN KE LAPANGAN LUSI (POSTING INI): 
Sebagai pengujian Hipotesis Perulangan Semburan Besar dan Refreshing Penjelajahan Gunung Lusi dengan dukungan Hunter-2 (mobil), Motor Lusi, Sepeda Ontel, dan Berkelana di Zona Ilmiah-Hawai dan Zona Turis-Nirwana.

ALBUM FOTO:


Peta Citra Google Earth: Spot Mengunjungi
LUSI Saat tepat Berumur 12 Tahun 29 Maret 2018.


Bagian 1: Masuk dari Himalaya Gateway ke Kawah Zona Glagah (timurlaut) dan Zona Hawai (utara)



Mengamati Perkembangan Gryphon

Menghadapi Rintangan Tanggul Berm: Memanggul sepeda dan naik dan turun di dalam



Melewati Rintangan Kedua: Menyebrangi hulu sungai dengan aliran Panas, dengan bantuan sepeda ontel, ditempatkan sebagai jembatan.


Pasca memastikan Perilaku bersiklus gyser lusi yang didominasi Lusi Sulung.  
Lanjut memerankan Mandi lumpur dan air Panas, dan mengamati titik Aliran di dalam menembus Berm selanjutnya sebagai sistam aliran Kali P68T.

Saatnya Balik Kanan menuruni Zona Hawai (Padang Lumpur Luas di utara Lusi), sambil mampir di Jembatan Lusi Utara No.1 dibuat dengan Gedek Bambu, dilengkapi dengan tanaman bunga Andonium.

BAGIAN II: Memantau Dinamika Zona Punggungan Siring di barat dari Geyser Lusi

Pada perjalanan dengan Hunter-2 melalui Tanggul Lingkar Luar Kedungbendo-Ketapang-Osaka-Siring-Mindi-Dome, Mampir menyapa Wawan yang sedang mengawasi Konstruksi Revitalisasi Tanggul Siring dengan membangun dibagian dalam. Seperti Pembangunan Tanggul Karka-Osaka pada tahun 2009 (bangun kearah dalam tanggul).
 Punggungan Siring berada di sisi barat dari Geyser Lusi, yang awalnya berkembang dengan arah utara selatan, mulai Desember 2017 mulai berpropagasi kearah tenggara. Sebagai implikasi Geyser Lusi Sulung mulai Berdominasi.

 Secara umum pada awal musim Panas, permukaan Punggungan Siring yang terbangun oleh selingan punggunan sempit diselingi Palung diantara Punggunan, masih diisi oleh air-lumpur basah.

Pada sisi utara dari Punggungan Siring didapatkan wilayah genangan dari banjir bandang lumpur halur abu-abu keputihan, lunak, yang terutama melalui area depresi saluran di batas utara Punggungan Siring.
KESIMPULAN:
  1. Kunjungan Lapangan sebagai benchmarking dari kondisi terakhir yang dikunjungi pada  April 2017 dan sebelumnya, serta evaluasi dari citra indraja Drone, karena citra satelit yang tersedia dengan pengambilan 23 Agustus 2017.
  2. Memerkokoh pengamatan sebelumnya bahwa Postur dan Perilaku Semburan bersiklus Geyser Lusi, masih berdinamis. Berlanjut sejak pertengahan 2017 Geyser Lusi Sulung semakin dominan, dengan memuntahkan lumpur pekat sampai encer dan air panas dengan mulut utama di timurlaut.
  3. Konsistensi kecepatan aliran lumpur-air diperkirakan >50.000m3/h, suhu di zona hulu Kali P67 >50cC (terlalu panas saat akan dilakukan uji coba mandi lumpur). Mengindikasikan bahwa pengamatan langsung di permukaan Lusi, mendukung fakta lapangan Lusi mengalami perulangan semburan besar, sejak tahun 2014 (5 Oktober 2014), Even TNI.
  4.  Mendukung hasil anasila geokimia dan geofisika bahwa "LUSI pada posisi di busur belakang sebagai induk sedimen sistem hidrotermal yang baru berkembang, berhubungan dengan gunung magmatik (Arjuno-Welirang-Penanggungan) di busur depan, yang letaknya di selatannya".
  5. Peningkatan dinamika Geyser Sulung di utara, dapat dilihat dengan aliran dominan air-lumpur panas kearah timurlaut, dibelokkan oleh tanggul berm menjadi mengalir ke barat. Menembus berm dan keluar sebagai sistem Kali P68 T yang selanjutnya keluar melalui Celah di Punggungan Himalaya timur, masuk ke Danau Kedungbendo. Dominasi dari Geyser Sulung telah memberikan implikasi struktur Punggungan Siring berpropagasi ke tenggara.
  6. Evaluasi citra Drone terbaru menunjukkan bahwa terjadi dinamika baru, dimana geometri Kawah dalam menjadi lebih tidak beraturan. Ditutupi oleh banjirbandang lumpur pekat berwarna hitam (klastika breksi lumpur), dengan sumbu panjang kawah luar timur-timurlaut, barat-baratdaya.
  7. Dengan kharakteristik Lusi mempunyai kepadatan yang rendah dibandingkan dengan batuan volkanik, sehingga Postur Kawah Lusi baik geometri, dimensi, dan posisinya terus berubah.
  8. Keberadaan struktur di permukaan baik terkait "pembentukan struktur kaldera melingkar" dengan pola amblesan radial (Gambar dari Andreas 2017). Maupun potensi pengaktifan kembali sistem Patahan Watukosek, dicirikan oleh geseran arah timurlaut-baratdaya (Miller 2017). Dapat menjadi tidak jelas, ketika Lusi didominasi even Luapan lumpur pekat dan cair yang menutupi Kawah dalam. Perkembangan struktur di sekitar kawah akan ditutupi oleh erupsi lumpur baru.
Hasil survei TLS, InSAR, GPS mendukung pola struktur kaldera melingkar (Andreas 2017).
Berdasarkan studi Seismik 2 D dan studi geologi dan geofisika terbaru dari LUSI LAB, disimulasikan bahwa Reaktifasi Patahan Watukosek memanjang dari komplek gunung magmatik AWP lanjut kearah Pusat Semburan Lusi, bahkan berlanjut ke utara (Miller 2017).




Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEUNIKAN BENCANA LUSI 2008

DINAMIKA LUSI NOVEMBER 2011

TINJAUAN DAN EVALUASI MAKALAH UTAMA LUSI, MARK TINGAY 2010